Kamis, 25 September 2014

You're Beautiful Just The Way You Are

     Judul artikel ini mungkin mengingatkan kita semua tentang lagu yang didendangkan oleh James Blunt  dan juga Bruno Mars. Sengaja penulis memilih judul ini karena topik hari ini mengenai beauty, jadi judulnya harus sedikit roman.. :3

     Menurut Anda, apa itu kecantikan? apakah memiliki badan langsing dengan lekuk yang indah layaknya jam pasir? Berambut panjang dan lurus? Make up? Memiliki payudara atau bokong yang besar? Memiliki kaki yang jenjang? Memiliki dagu yang kokoh? Well, nggak ada yang salah kog dengan jawaban-jawaban tersebut karena pada dasarnya tiap orang memiliki definisi cantik yang berbeda dengan orang lain. ^u^

     Apa sih hal yang membuat tiap orang memiliki definisi cantik yang berbeda? Menurut penulis, definisi cantik itu muncul dari persepsi individu, dan persepsi terbentuk dari budaya, agama, serta lingkungan di mana individu tersebut hidup. Contoh saya ambil dari  film dokumenter berjudul Science of Beauty: Sex Signs. Film ini menceritakan individu dari negara yang berbeda mendefinisikan kecantikan dengan berbeda pula. Contohnya perempuan Jepang suka didandani seperti Geisha karena menurut mereka Geisha itu kecantikan yang sempurna. Laki-laki Jepang berkata bahwa kecantikan itu tentang menutupi, Geisha mengenakan make up dan kimono (menutup lekuk tubuh, payudara, bokong). Beda dengan orang India yang lebih suka ‘terbuka’ dalam berbusana, pastinya Anda pernah menonton film India, bukan? Bagaimana fashion dalam film-film tersebut? Laki-laki India berkata kecantikan perempuan terletak pada mata, rambut panjang dan lurus, dan hidung. Kalau di negara Barat, beda lagi, readers, mereka cenderung untuk menampilkan bentuk tubuh mereka. Perempuan di negara Barat, perempuan berpakaian dress dengan rok yang dapat bergerak ketika ditiup angin. Bagi mereka memperlihatkan lekuk tubuh itu merupakan kecantikan. Laki-laki di negara Barat menyukai bentuk payudara dan bokong yang besar.

     Berdasarkan film yang sama, dikatakan bahwa perempuan Jepang cenderung menyukai pria yang sedikit feminin (berambut gondrong, kurus). Ada pria Jepang menyukai bentuk tubuh perempuan yang pendek dan gempal (montok) karena baginya perempuan dengan kriteria seperti itu cantik. Film juga membahas mengapa laki-laki mencari perempuan cantik, alasannya simple untuk berkembang biak. Sedangkan perempuan cenderung menyorot kepribadian dan tingkat kemapanan dibanding penampilan laki-laki. Mereka (perempuan) mencari pasangan yang dapat diandalkan oleh mereka. Misalnya ketika mengandung tentu perempuan merasakan kesulitan dalam beberapa aktivitas dan membutuhkan bantuan dari laki-laki.

     Ada yang lebih seru lagi nih. Penelitian yang dilakukan dalam film dokumenter tersebut menunjukkan bahwa wajah mengandung informasi mengenai seberapa baik individu mengurus dirinya. Laki-laki dan perempuan menyukai bentuk wajah yang simetris dan mirip dengan mereka. Wah keren ya? Oleh karena itu, ada yang bilang kalau sudah jadi suami istri itu mirip ya? Sebenarnya kemiripan tersebut sudah berlangsung sejak masa pacaran dan proses tersebut terjadi secara tidak sadar.

     Nah, dari apa yang sudah disampaikan, apa yang readers ketahui tentang kecantikan? Well.. Penulis ingin menyampaikan jadilah cantik dengan menjadi diri Anda sendiri, jujur dan berpendidikan, baik dalam bertutur kata, berpikir dan bertindak karena cantik itu berasal dari dalam diri kita yang akan terpancar secara lahiriah. J



“You’re beautiful, it’s true.”
   – James Blunt.

Woman and Harassment in the Workplace

     Individu  dibekali bakat dari lahir dan mengasah bakat tersebut seiring bertumbuh kembang untuk memenuhi tugas-tugas perkembangannya, khususnya perempuan. Perempuan bertumbuh kembang dengan berbagai peran dalam kehidupannya dan peran-peran tersebut semakin terlihat dalam perkuliahan, karier, hingga menikah. Seiring dengan perkembangan tersebut akan banyak tantangan dan gangguan yang diterima oleh individu (khususnya perempuan) di tempat kerja.

     Perempuan bekerja sebagai karyawan, SPG (Sales Promototion Girl), buruh pabrik, waitress, dan sebagainya untuk memenuhi kebutuhan ekonomi personal maupun keluarganya. Akan tetapi, ada kalanya terdapat perlakuan yang tidak diinginkan dari perusahaan atau pabrik terhadap perempuan, sebut saja pelecehan seksual. Pelecehan seksual dilakukan oleh seseorang yang berkuasa di tempat kerja terhadap seseorang yang memiliki daya yang lebih kecil (lemah). Apa saja sih bentuk pelecehan seksual?? Pelecehan seksual dapat dilakukan secara verbal; seperti meremehkan kemampuan seseorang karena berjenis kelamin perempuan atau rayuan seksual (contoh paling umum: piwit.. cewe godain kita dong..), dan juga perilaku dalam sentuhan di private area, seperti bokong, dada, dan leher. Korban pelecehan cenderung mengalami reaksi kesepian, cemas, takut, malu, depresi, percaya diri menurun, dan masalah fisik. Kasihan, kan? L Apa kalian masih berani melakukan pelecehan terhadap orang lain?

       Eits, jangan takut atau berpikir hal negatif tentang bekerja dulu yak, soalnya kita bisa kog mengantisipasi pelecehan seksual ini. Kenapa kita? Soalnya selain korban sendiri, kaum adam dapat mengantisipasinya juga loh. Gimana caranya? Mudah saja, jauhi tindakan yang dikiranya sebagai pelecehan seksual oleh perempuan. Kemudian, Anda sebagai laki-laki harus bertindak apabila melihat perempuan dilecehkan secara seksual oleh teman laki-laki Anda. Jangan diam saja karena diamnya Anda diartikan sebagai persetujuan oleh teman-teman Anda, bro!! Kalau dari korban sendiri, kamu harus berani dan tegas (tapi tetap sopan) dalam menanggapi pelecehan tersebut, ada baiknya tidak patuh akan rayuan atau gertakan peleceh. Kemudian, korban harus akrab dengan kebijakan tempat kerja tentang pelecehan seksual, dan tahu pejabat mana bertanggung jawab atas keluhan. Kalau masalah tetap berlanjut, gimana? Nah di sini fungsinya curhat, tapi curhat kepada orang yang benar-benar Anda percaya ya. Anda bisa menceritakan peleceh kepada sahabat kamu karena dukungan itu diperlukan loh.


     Well, tidak menutup kemungkinan kalau peleceh itu perempuan dan yang menjadi korbannya adalah laki-laki. Bagaimana bisa? Kembali ke paragraf kedua, pelecehan terjadi karena power atau daya yang dimiliki seseorang dalam suatu organisasi. Jadi, perempuan memiliki kemungkinan yang sama untuk menjadi peleceh apabila perempuan tersebut memiliki power untuk mengintimidasi orang lain (perempuan/laki-laki).

Selasa, 16 September 2014

Cuz you And I Were Meant To Be.

     Kadang kita berpikir pacaran itu apa sih? Berapa lama waktu yang dibutuhkan dalam pacaran supaya bisa mengenal lebih dalam pasangan kita? Apa saja hal perlu yang dibicarakan? Apa saja yang dilakukan saat pacaran? Pelukan? Ciuman? Hal-hal romantis lainnya seperti di film-film?? Well, tentunya masih ada banyak pertanyaan lainnya di benak Anda. Eh eh.. Tunggu dulu, sebelum mengumbar makin banyak pertanyaan terkait, penulis ingin mengemukakan kalau pacaran itu proses menemukan pasangan hidup. Yang namanya proses, ada yang namanya coba-coba, tapi yang namanya coba-coba harus hati-hati karena sepintar-pintarnya tupai melompat pasti akan jatuh juga. J Dalam pacaran ada baiknya bila kita tidak over mesra baik di publik maupun pribadi, yang rugi kamu loh. Kenapa? Hmm misalnya aja dari panggilan udah panggil papa mama, ketika hubungan kandas, kamu resmi jadi janda/duda. Hahaha.. XD #intermezzodikit Yah misalnya aja kamu melakukan hubungan seks dengan pasangan kamu, tapi dia meninggalkan kamu begitu saja. Walaupun hamil atau nggak hamil, tapi kamu tetap merasa malu dan rugi, kan?
     Pacaran sih oke oke aja, tapi untuk first step ada baiknya tidak melakukan yang penulis sebut dengan romantic action, seperti berpelukan dan berciuman. Setelah melakukan romantic action tersebut, kadang kita tidak menggunakan logika, tapi justru keinginan lahiriah yang mendorong tindakan kita selanjutnya. Terus apa yang harus dilakukan? Yah, simple aja, make ground rules for both of you . Tapi kan ga seru?? Well, mencegah lebih baik daripada mengobati, kan? J Nah, perlu dicatat, semasa pacaran baik laki-laki maupun perempuan itu cenderung faking (good or bad), jadi perlu diteliti lagi tuh pasangan kalian, temen-temen. Misalnya cowo perokok, tapi dia bilang kalau dia bukan perokok. Nah nanti ketika sudah menikah baru kelihatan belangnya. So, hati-hati, perhatikan bibit, bebet, bobotnya.
     Gimana kalau pasangan itu selama ini hanya yes yes no no aja? Kalau diajak ngobrol, kamu yang paling bawel? Setiap komunikasi hanya bilang “ilu, kangen, met pagi, udah makan belum?” dan masih banyak lagi, itu basi, bangett. Kalau pola komunikasi hanya gitu-gitu aja, repair kalau nggak tinggalkan aja. Pola komunikasi itu tergantung pada respon lawan bicara kamu, atau memang ada faktor dari diri masing-masing yang harus diperbaiki.
     Pacaran dalam waktu yang lama juga membuat pasangan bertanya-tanya mau dibawa kemana hubungan ini?? Yah kalau udah merasa klik alias cocok satu sama lain, mau sampai kapan menikmati dunia berdua aja?  Kecuali kalau kamu nggak berani komitmen, just be honest, walaupun kamu mungkin dapat cap lima jari di pipi, it’s okay rather than trap in hell marriage. Kadang kunci (jujur) hubungan yang satu ini sering dianggap sepele oleh kebanyakan orang yang akhirnya membawa petaka di masa mendatang. Syukur kalau pasangan memang menerima kamu apa adanya, kalau tidak, relakan saja, toh manusia di bumi over produksi.. hehehe.
     Pacaran udah, sekarang mau nikah nih. Tanyakan kembali pada diri dan hati masing-masing, sudah siapkah secara mental dan fisik? Apakah kamu dan pasangan memegang komitmen untuk berkeluarga? Kalau ya, selamat dan lanjutkan berpegang teguh dengan komitmen Anda bersama karena perceraian terjadi karena komitmen yang kurang sebelum pernikahan. That’s all! Semoga membantu yah. :D

”I would like to spend the rest of my life with you and let death do us part, not the third party.” - Candee Ginger.


Selasa, 09 September 2014

Woman and Family

     Hello again, readers! Penulis ingin berbagi pengetahuan mengenai topik kuliah minggu lalu, perempuan dalam lingkup keluarga nih. Lets go! Nah, di blog pertama penulis menuliskan bahwa perempuan itu harus tangguh apalagi setelah mereka menikah dan menjadi ibu rumah tangga. There’s so many things to do once when a woman become a housewife!! Kog gitu? Anda dapat melihat contohnya dalam kehidupan sehari-hari, ibu, tante, kakak perempuan atau kakak ipar yang mengasuh anak sekaligus mengurus rumah tangga. Itulah realita kehidupan ibu rumah tangga yang diremehkan sebagian kalangan, penulis berharap blog ini menyadarkan pembaca akan kesulitan seorang ibu rumah tangga. Selain banyaknya do dan don’t dalam rumah tangga, pastinya ada konflik antara mertua dan menantu, suami  dan istri, maupun orangtua dan anak. Pada dasarnya menikah itu tidak hanya menyatukan sepasang kekasih, tetapi juga keluarga dari kedua belah pihak. Well, there’s no easy marriage, need readiness physically and mentally. Bagi sepasang kekasih, menyatukan pikiran saja sulit, bagaimana menggabungkan pikiran begitu banyak orang belum lagi dipengaruhi tradisi dan budaya masing-masing? Think twice please before you decide something cuz YOUR FUTURE will be influenced!

     Penulis menyorot faktor readiness perempuan menikah yang melakukan tindak kekerasan pada bayi. Sebenarnya, menjadi ibu adalah suatu berkat berharga yang diberikan sang pencipta kepada perempuan, bersyukurlah. Kenapa? Karena dengan menjadi ibu, seorang perempuan memperoleh kekuatan dalam menjalani perannya, memiliki interaksi dengan anak, dan dapat mengembangkan kemampuan dalam pengasuhan. Tentu di balik hal yang menyenangkan terdapat hal yang negatif, misalnya saja perasaan lelah dan secara fisik tidak nyaman (bentuk badan berubah), terisolasi, marah hingga kecewa. Akan tetapi, bila kehamilan yang terjadi merupakan kehamilan yang diinginkan, otomatis sang ibu akan lebih mengontrol emosinya. Beda dengan ibu yang melahirkan bayinya karena diperkosa atau menikah karena ‘kecelakaan’. Coba deh anda bayangkan, perempuan mana yang mau melahirkan bayi tanpa ayah (apalagi bila ayah bayi tidak diketahui) atau  menikah karena malu akan perut yang membuncit?
“itu kan salah dia sendiri karena keluyuran malam-malam.”
     Penulis memiliki pengalaman tentang perempuan yang menikah karena ‘kecelakaan’. Perempuan ini memiliki ayah yang otoriter dan cenderung melakukan kekerasan fisik dan verbal juga terhadap dirinya. Perempuan tersebut menikah dengan ayah si bayi, tetapi pernikahan tidak berlangsung lama karena kurangnya nafkah dari suami dan konflik yang ada dalam rumah tangganya (karena beda budaya). Dalam proses pengasuhan anaknya, perempuan ini juga melakukan kekerasan pada anaknya (verbal dan fisik). Kasihan bukan? Sebenarnya bila diusut, perempuan ini kurang memperoleh perhatian dan kasih sayang dari ayah. Perempuan tersebut menemukannya pada pria yang menghamilinya sehingga ia terbuai oleh kasih sayang palsu pria tersebut. Ibu si perempuan membelanya supaya ayahnya mau menerima putri mereka dan cucu mereka. Awalnya sulit, akan tetapi ibu dan saudaranya berhasil meyakinkan sang ayah.

     Berdasarkan short case di atas, penulis menekankan jangan salahkan perempuan atas musibah yang diterimanya semata! Itu merupakan pikiran kolot yang tidak manusiawi terhadap kaum perempuan. Most people do judge,not empathy. Oleh karena itu, penulis ingin menekankan bahwa pola asuh orangtua, lingkungan, dan dukungan (sosial dan ekonomi) turut mempengaruhi kehidupan seseorang, terutama perempuan. Perempuan sebagai ibu juga tidak tega melihat anaknya menderita dan disakiti.

So, love your self, girls. It’s never easy to grow up, but you must try to fit the environment, not escape from it. Also think about your parents, especially your mom who give you birth and commit her self to take care of you by the rest of her life.

Selasa, 02 September 2014

Love Or Commitment Should Be In The Marriage?


     Halo, readers! Berjumpa lagi dengan saya di post kedua saya, kali ini topik saya nggak jauh dari perempuan dan pernikahan. Ada yang berpikir lebih baik menikah setelah selesai kuliah daripada kerja dan ada yang berpikir untuk melanjutkan kuliah dan karier. Tidak ada salah dengan pilihan tersebut, tetapi apakah perempuan menyadari apa hal yang paling mendasari suatu pernikahan?? Apakah perempuan sudah siap secara batin dan lahiriah? Apakah perempuan menyadari apa yang harus dilakukan dan apa yang akan dihadapi dalam pernikahannya kelak? Well tidak ada perempuan yang mendambakan pernikahan yang dipenuhi kekerasan, permasalahan anak, pertengkaran yang berujung perceraian, suami menikah lagi, dan kasus lainnya. Saya yakin perempuan mendambakan pernikahan yang bahagia dan langgeng, tapi untuk terjadinya hal tersebut apakah perempuan yakin mampu mewujudkannya?

     Well, baik perempuan maupun laki-laki harus mampu menjadi pelaku untuk mewujudkan kelanggengan suatu pernikahan, bukan hanya penikmat. Kalau hanya satu pelaku artinya kerja rodi? Haha, nggak gitu juga keleus. Maksudnya tidak ada salahnya kan kalau perempuan dan laki-laki bekerja sama untuk mewujudkannya? Sama-sama menjadi penikmat toh? Eits, kerja sama yang saya maksud adalah membina keluarga, membesarkan anak-anak, dan saling memberi dukungan (sosial, ekonomi, maupun emosional).
We live together, work together.” – Luke Katcher, in Step Up 3.
     Yang kita tahu, setelah menikah, perempuan akan mengalami masa kehamilan kemudian melahirkan bayi, udah.  Well, it’s not the end, ladies! Seperti yang dicetuskan dosen pengampu psikologi perempuan di fakultas saya, “penderitaan justru baru dimulai.” Kenapa? Yah tentu saja, bayi yang lahir tidak mengenal waktu, bila lapar, poop, pipis, sakit perut, maka bayi hanya akan bisa menangis dan ibu harus siap 24 jam/minggu untuk itu. Nah, bayangkan saja perempuan single diminta untuk bekerja dengan waktu istirahat yang kurang, apa yang akan terjadi? Ya, emosi menjadi tidak terkontrol dengan baik, sehingga menjadi mudah marah karena kelelahan. Hal ini disebut baby blues, yaitu suatu kondisi di mana ibu merasa frustasi dengan bayinya karena ibu harus menyusui, mengganti popok, menidurkan bayi, dan sebagainya. Baby blues muncul pada ibu baru dan cenderung tidak memperoleh dukungan emosional dari orang-orang di sekitarnya (suami dan keluarga).

     Nah, kembali ke pertanyaan pada paragraph pertama, apa yang mendasari suatu pernikahan? Cinta? Atau komitmen? Pernah dengar cinta expired setelah menikah? Berdasarkan pengalaman perempuan yang telah menikah bercerita kepada saya, pernikahan karena cinta (buta) justru terasa hambar karena cinta telah expired. Jadi komponen penting apa yang harus mendasari suatu hubungan (khususnya pernikahan)? Cinta perlu, tapi komitmen paling diperlukan. Contohnya Anda dan pasangan berkomitmen untuk berkeluarga (memiliki anak dan membesarkannya), saling mengasihi dan mendukung satu sama lain. Kalau Anda dan pasangan menikah karena cinta yang ada hanya romantisme yang ‘sesaat’. Perlu diingat bahwa cinta itu ‘bumbu’ penyedap, bukan komposisi utama dalam suatu hubungan. Setelah menikah, perempuan memiliki tanggung jawab yang lebih besar loh. Marriage is not easy to do,  jadi jangan salah langkah ya, ladies. ;)