Halo, readers!
Berjumpa lagi dengan saya di post kedua
saya, kali ini topik saya nggak jauh
dari perempuan dan pernikahan. Ada yang berpikir lebih baik menikah setelah
selesai kuliah daripada kerja dan ada yang berpikir untuk melanjutkan kuliah
dan karier. Tidak ada salah dengan pilihan tersebut, tetapi apakah perempuan menyadari
apa hal yang paling mendasari suatu pernikahan?? Apakah perempuan sudah siap
secara batin dan lahiriah? Apakah perempuan menyadari apa yang harus dilakukan dan
apa yang akan dihadapi dalam pernikahannya kelak? Well tidak ada perempuan yang mendambakan pernikahan yang dipenuhi
kekerasan, permasalahan anak, pertengkaran yang berujung perceraian, suami
menikah lagi, dan kasus lainnya. Saya yakin perempuan mendambakan pernikahan
yang bahagia dan langgeng, tapi untuk terjadinya hal tersebut apakah perempuan
yakin mampu mewujudkannya?
Well, baik perempuan
maupun laki-laki harus mampu menjadi pelaku untuk mewujudkan kelanggengan suatu
pernikahan, bukan hanya penikmat. Kalau hanya satu pelaku artinya kerja rodi? Haha,
nggak gitu juga keleus. Maksudnya tidak
ada salahnya kan kalau perempuan dan laki-laki bekerja sama untuk
mewujudkannya? Sama-sama menjadi penikmat toh? Eits, kerja sama yang saya maksud
adalah membina keluarga, membesarkan anak-anak, dan saling memberi dukungan
(sosial, ekonomi, maupun emosional).
“We live together, work together.” – Luke Katcher, in Step Up 3.
Yang kita tahu, setelah menikah, perempuan
akan mengalami masa kehamilan kemudian melahirkan bayi, udah. Well, it’s not the end, ladies! Seperti yang dicetuskan dosen
pengampu psikologi perempuan di fakultas saya, “penderitaan justru baru
dimulai.” Kenapa? Yah tentu saja, bayi yang lahir tidak mengenal waktu, bila
lapar, poop, pipis, sakit perut, maka
bayi hanya akan bisa menangis dan ibu harus siap 24 jam/minggu untuk itu. Nah, bayangkan
saja perempuan single diminta untuk bekerja dengan waktu istirahat yang kurang,
apa yang akan terjadi? Ya, emosi menjadi tidak terkontrol dengan baik, sehingga
menjadi mudah marah karena kelelahan. Hal ini disebut baby blues, yaitu suatu kondisi di mana ibu merasa frustasi dengan
bayinya karena ibu harus menyusui, mengganti popok, menidurkan bayi, dan
sebagainya. Baby blues muncul pada ibu
baru dan cenderung tidak memperoleh dukungan emosional dari orang-orang di
sekitarnya (suami dan keluarga).
Nah, kembali ke
pertanyaan pada paragraph pertama, apa yang mendasari suatu pernikahan? Cinta? Atau
komitmen? Pernah dengar cinta expired
setelah menikah? Berdasarkan pengalaman perempuan yang telah menikah bercerita kepada
saya, pernikahan karena cinta (buta) justru terasa hambar karena cinta telah expired. Jadi komponen penting apa yang
harus mendasari suatu hubungan (khususnya pernikahan)? Cinta perlu, tapi
komitmen paling diperlukan. Contohnya Anda dan pasangan berkomitmen untuk
berkeluarga (memiliki anak dan membesarkannya), saling mengasihi dan mendukung
satu sama lain. Kalau Anda dan pasangan menikah karena cinta yang ada hanya
romantisme yang ‘sesaat’. Perlu diingat bahwa cinta itu ‘bumbu’ penyedap,
bukan komposisi utama dalam suatu hubungan. Setelah menikah, perempuan memiliki
tanggung jawab yang lebih besar loh. Marriage
is not easy to do, jadi jangan salah
langkah ya, ladies. ;)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar